oh iya temen-temen, aku sebenarnya juga dari keluarga keturunan Sasak, Lombok. Nah, ngomongin suku, ya gak lepas dari namanya budaya. Budaya Sasak, mirip juga dengan budaya Bali yang katanya masih saudaraan. Nah, aku mau bagi-bagi sedikit nih tentang kebudayaan yang ada di daerah asalku yakni Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Sejarah
Era
pra Sejarah tanah Lombok tidak jelas karena sampai saat ini belum ada
data-data dari para ahli serta bukti yang dapat menunjang tentang masa
pra sejarah tanah lombok.Suku Sasak temasuk dalam ras tipe melayu yang
konon telah tinggal di Lombok selama 2.000 tahun yang lalu dan
diperkirakan telah menduduki daerah pesisir pantai sejak 4.000 tahun
yang lalu, dengan demikian perdagangn antar pulau sudah aktif terjadi
sejak zaman tesebut dan bersamaan dengan itu saling mempengaruhi antar
budaya juga telah menyebar.
Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq (dalam bahasa sasak laeq berarti waktu lampau), namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian surut dan digantikan oleh Kerajaan Lombok. Pada abad ke-9 hingga abad ke-11 berdiri Kerajaan Sasak
yang kemudian dikalahkan oleh salah satu kerajaan yang berasal dari
Bali yaitu kerajaan Gel gel. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri
di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton
dan Selaparang.
Kerajaan Selaparang sendiri muncul pada dua periode yakni pada abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas
yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang
karena permasalahan dengan raja Selaparang. Pendudukan Bali ini
memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di sisi barat Lombok, seperti
pada tarian serta peninggalan bangunan (misalnya Istana Cakranegara di Ampenan).
Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat
campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk karena pemberontakan
orang Sasak mengundang mereka datang. Namun demikian, Lombok kemudian
berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda secara langsung.
Lombok mirah sasak adi merupakan salah satu kutipan dari kitab Negarakertagama, sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan pemerintahaan kerajaan Majapahit. Kata Lombok dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, kata mirah berarti permata, kata sasak berarti kenyataan, dan kata adi artinya yang baik atau yang utama maka arti keseluruhan yaitu kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.
Makna filosofi itulah mungkin yang selalu di idamkan leluhur penghuni
tanah lombok yang tercipta sebagai bentuk kearifan lokal yang harus
dijaga dan dilestariakan oleh anak cucunya.
Dalam
kitab – kitab lama, nama Lombok dijumpai disebut Lombok mirah dan
Lombok adi beberapa lontar Lombok juga menyebut Lombok dengan gumi
selaparang atau selapawis.
Asal-usul penduduk pulau Lombok terdapat beberapa Versi salah satunya yaitu Kata sasak secara etimilogis menurut Dr. Goris. s. berasal dari kata sah yang berarti pergi dan shaka yang berarti leluhur. Berarti pergi ke tanah leluhur orang sasak
( Lombok ). Dari etimologis ini diduga leluhur orang sasak adalah orang
Jawa, terbukti pula dari tulisan sasak yang oleh penduduk Lombok
disebut Jejawan, yakni aksara Jawa yang selengkapnya diresepsi oleh
kesusastraan sasak.
Etnis
Sasak merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lombok, suku sasak
merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya. Bukti
lain juga menyatakan bahwa berdasarkan prasasti tong – tong yang
ditemukan di Pujungan, Bali, Suku sasak sudah menghuni pulau Lombok
sejak abad IX sampai XI masehi, Kata sasak pada prasasti tersebut
mengacu pada tempat suku bangsa atau penduduk seperti kebiasaan orang
Bali sampai saat ini sering menyebut pulau Lombok dengan gumi sasak yang
berarti tanah, bumi atau pulau tempat bermukimnya orang sasak.
Masuknya Jepang (1942) membuat otomatis Lombok berada di bawah kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur. Seusai Perang Dunia II Lombok sempat berada di bawah Negara Indonesia Timur, sebelum kemudian pada tahun 1950 bergabung dengan Republik Indonesia.
Agama
Sebagian besar penduduk pulau Lombok terutama suku Sasak menganut agama Islam (pulau Lombok juga dikenal dengan sebutan pulau seribu masjid). Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut Kristen, Buddha
dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para
pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini.
Organisasi
keagamaan terbesar di Lombok adalah Nahdlatul Wathan (NW), organisasi
ini juga banyak mendirikan lembaga pendidikan Islam dengan berbagai
level dari tingkat terendah hingga perguruan tinggi.
Di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya di daerah Bayan, terutama di kalangan mereka yang berusia lanjut, masih dapat dijumpai para penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga). Tidak seperti umumnya penganut ajaran Islam yang melakukan salat lima kali dalam sehari, para penganut ajaran ini mempraktikan salat wajib
hanya pada tiga waktu saja. Konon hal ini terjadi karena penyebar Islam
saat itu mengajarkan Islam secara bertahap dan karena suatu hal tidak
sempat menyempurnakan dakwahnya.
Terdapat juga sebuah kumpulan kecil orang sasak yang disebut Bodha (jumlah: ± 8000 orang) yang menduduki kampung Bentek dan di curam Gunung Rinjani. Agama mereka tidak mempunyai pengaruh Islam dan amalan utama mereka adalah memuja dewa-dewa animisme. Ajaran agama Hindu dan Buddha juga dimasukkan di dalam upacara agama mereka.
Agama
Bodha mempercayai adanya lima tuhan yang besar, yang paling tinggi
dikenali sebagai Batara Guru. Tuhan yang lain adalah Batara Sakti dan
Batara Jeneng bersama isteri mereka Idadari Sakti dan Idadari Jeneng.
Namun kini, penganut agama Bodha sedang diajarkan mengenai agama Buddha
yang ortodoks oleh sami-sami yang dihantar oleh persatuan besar Buddha
terbesar negara Indonesia.
Bahasa
Disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa Sasak
(bahasa asli) sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di
seluruh Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam empat macam
dialek yang berbeda yakni dialek Lombok utara , tengah, timur laut dan
tenggara. Selain itu dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok (sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat terutama di Lombok Barat dan Kotamadya Mataram dapat dijumpai perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari.
Mata Pencaharian
Mata
pencaharian penduduk suku Sasak berasal dari sektor pertanian dengan
daerah tersebur diwilayah kabupaten lombok timur, selain itu juga dalam
bidang peternakan dan hanya sebagian kecil bermata pencahariannya dari
Pariwisata.
Sistem Kemasyarakatan Suku Sasak
1. Pelapisan Sosial
Di daerah lombok secara umum terdapat 3 Macam lapisan sosial masyarakat :
- Golongan Ningrat
- Golongan Pruangse
- Golongan Bulu Ketujur ( Masyarakat Biasa )
Masing -masing lapisan sosial masyarakat di kenal dengan Kasta yang mempunyai criteria tersendiri :
Ø Golongan
Ningrat ; Golongan ini dapat diketahui dari sebutan kebangsawanannya.
Sebutan keningratan ini merupakan nama depan dari seseorang dari
golongan ini. Nama depan keningratan ini adalah ” lalu ” untuk
orang-orang ningrat pria yang belum menikah. Sedangkan apabila merka
telah menikah maka nama keningratannya adalah ” mamiq “. Untuk wanita
ningrat nama depannya adalah ” lale”, bagi mereka yang belum menikah,
sedangkan yang telah menikah disebut ” mamiq lale”.
Ø Golongan
Pruangse ; kriteria khusus yang dimiliki oleh golongan ini adalah
sebutan “ bape “, untuk kaum laki-laki pruangse yang telah menikah.
Sedangkan untuk kaum pruangse yang belum menikah tak memiliki sebutan
lain kecuali nama kecil mereka, Misalnya seorang dari golongan ini lahir
dengan nama si ” A ” maka ayah dari golongan pruangse ini
disebut/dipanggil ” Bape A “, sedangkan ibunya dipanggil ” Inaq A “.
Disinilah perbedaan golongan ningrat dan pruangse.
Ø Golongan
Bulu Ketujur ; Golongan ini adalah masyarakat biasa yang konon dahulu
adalah hulubalang sang raja yang pernah berkuasa di Lombok. Kriteria
khusus golongan ini adalah sebutan ” amaq ” bagi kaum laki-laki yang
telah menikah, sedangkan perempuan adalah ” inaq “.
Di
Lombok, nama kecil akan hilang atau tidak dipakai sebagai nama
panggilan kalau mereka telah berketurunan. Nama mereka selanjutnya
adalah tergantung pada anak sulungnya mereka. Seperti contoh di atas
untuk lebih jelasnya contoh lainnya adalah bila si B lahir sebagai cucu,
maka mamiq A dan Inaq A akan dipanggil Papuk B. panggilan ini berlaku
untuk golongan Pruangse dan Bulu Ketujur. Meraka dari golongan Ningrat
Mamiq A dan Mamiq lale A akan dipanggil Niniq A.
2. Sistem Kekerabatan
Sistem
kekerabatan di Tolot-tolot khususnya dan lombok selatan pada umumnya
adalah berdasarkan prinsip Bilateral yaitu menghitung hubungan
kekerabatan melalui pria dan wanita. Kelompok terkecil adalah keluarga
batih yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak. Pada masyarakat lombok
selatan ada beberapa istilah antara lain :
- Inaq adalah panggilan ego kepada ibu.
- Amaq adalah panggilan ego kepada bapak.
- Ari adalah panggilan ego kepada adik perempuan atau adik laki-laki.
- Kakak adalah panggilan ego kepada saudara sulung laki-laki ataupun perempuan.
- Oaq adalah panggilan ego kepada kakak perempuan atau laki-laki dari ibu dan ayah.
- Saiq adalah panggilan ego kepada adik perempuan atau laki-laki dari ayah atau ibu
- Tuaq adalah panggilan ego kepada adik laki-laki dari ayah atau ibi.
- Pisak adalah panggilan ego kepada anak dari adik/kakak dari ibu.
- Pusak adalah panggilan ego kepada anak dari adik/kakak dari ayah.
Untuk
masyarakat kaum kerabat di tolot-tolot pada khususnya dan lombok
selatan pada umumnya mencakup 10 generasi ke bawah dan 10 generasi ke
atas tersebut sebagai berikut :
Generasi ke atas :
- Inaq/amaq
- Papuk
- Balok
- Tate
- Toker
- Keletuk
- Keletak
- Embik
- Mbak
- Gantung Siwur
Generasi ke bawah :
- Anak
- Bai
- Balok
- Tate
- Toker
- Keletuk
- Keletak
- Embik
- Ebak
- Gantung Siwur
Sumber : Daliem, Mimbarman, ” Lombok Selatan Dalam Pelukan Adat Istiadat Sasak” 1981-1982
Kebudayaan
1. Adat-Istiadat
Adat
istiadat suku sasak dapat di saksikan pada saat resepsi perkawinan,
dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka
yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki
laki, ini yang dikenal dengan sebutan "Merarik" atau "Selarian".
Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk
memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya akan
dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan "Mesejati" atau semacam pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Setalah selesai makan akan diadakan yang disebut dengan "Nyelabar" atau kesepakatan mengenai biaya resepsi.
2. Presean Simbol Kejantanan Taruna (Pemuda) Sasak
Budaya
Presean atau bertarung dengan rotan memang sudah dikenal masyarakat
Lombok sejak lama. Namun budaya yang penuh dengan kekerasan itu berubah
menjadi unik ketika dipadukan gaya bela diri yang unik dan lucu dari
pemainnya.
Presean
adalah salah salah satu kekayaan budaya bumi gogo rancah (lombok).
Acara ini berupa pertarungan dua lelaki Sasak bersenjatakan tongkat
rotan (penjalin) serta berperisai kulit kerbau tebal dan keras (ende).
Petarung biasa disebut pepadu. Presean bermula dari luapan emosi para
prajurit jaman kerajaan taun jebot (dahulu kala) sehabis mengalahkan
lawan di medan perang. Acara tarung presean ini juga diadakan untuk
menguji keberanian/nyali lelaki sasak yang wajib jantan dan heroik saat
itu.
Uniknya
dari pertarungan presean, pesertanya tidak pernah dipersiapkan secara
khusus. Pepadu atau petarung dicomot (diambil) dari penonton yang mau
adu nyali dan ketangguhan mempermainkan tongkat rotan dan perisai yang
disediakan. Penonton/calon peserta bisa mengajukan diri atau dipilih
oleh wasit pinggir (pakembar sedi). Setelah mendapat lawan, pertarungan
akan dimulai dan dimpimpin oleh wasit tengah (pekembar).
Duel
dua pepadu diadakan dalam lima ronde, pemenangnya ditentukan oleh hasil
nilai yang diperoleh atau salah satu pepadu bocor kepala,
bedarah-darah, atau kibar bendera putih.
Uniknya,
di sela-sela pertarungan para pepadu plus para wasit harus menari jika
musik dimainkan. Mungkin maksudnya untuk melepas ketegangan selama
jalannya pertandingan. Asik juga ngeliatnya, sesaat para petarung saling
baku hantam, beberapa detik kemudian mereka menari sembari tertawa dan
mencari-cari celah kelemahan lawan, sedetik kemudian rotan keras
menghantam perisai – plak!, lalu mereka menari lagi… Amazing dan
mendebarkan…!!!
Tarian
rotan dari Lombok ini sudah dikenal masyarakat Sasak secara turun
temurun. Awalnya merupakan sebuah bagian dari upacara adat yang menjadi
ritual untuk memohon hujan ketika kemarau panjang. Sebuah tradisi-yang
dalam perkembangan kemudian-sekaligus berfungsi sebagai hiburan yang
banyak diminati. Sebagai salah satu upaya melestarikan budaya daerah,
Presean Lombok pun mulai sering dilombakan. Pertandingan diakhir dengan
salam dan pelukan persahabatan antar petarung. Tanda tiada dendam dan
semua hanyalah permainan! Benar-benar sportif.
Adegan
seperti ini sering di lakukan masyarakat pulau lombok apa bila ada
acara adat, tidak heran masyarakat sangat antusias untuk menonton acara
seperti ini,selain dapat menarik wisatawan mancanegara wisatawan lokal
pun berbondong-bondong menyaksikan acara ini. Dalam adengan presean
tidak jarang salah satu dari orang yang presean mengalami luka yang
cukup parah tapi mereka tetap senang dan bergembira.
3. Begawe dan Nyongkolan
Sebagai suku yang memiliki budaya, dalam tradisi sehari-hari, suku Sasak
Lombok seperti suku-suku lainnya yang ada di dunia ini, juga menjunjung
tinggi nilai kultural budaya mereka. Salah satu yang bisa kita lihat
dan sering kita temui adalah tradisi "Nyongkolan".

Nyongkolan berasal dari kata songkol atau sondol yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan secara kasar berarti menggiring (mengiring -pen) dalam bahasa sasak dialek Petung Bayan.
Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara Laki-Laki (Terune) dan Perempuan (Dedare)
di dalam suku Sasak. Biasanya nyongkolan akan dilaksanakan setelah
proses akad nikah, untuk waktu bisa ditentukan oleh kedua belah pihak.
Ada yang meringkas dalam satu waktu ada pula yang akan melakukan
nyongkolan seminggu setelah proses akad nikah dilaksanakan.
Prosesi nyongkolan tidak akan bisa dilepas dari suatu kegiatan yang disebut "Begawe" (hajatan-pen).
Jadi prosesi nyongkolan akan dikategorikan sebagai suatu hajatan atau
Begawe. Pada jaman-jaman dahulu Begawe Nyongkolan akan dikemas dalam
suatu pesta hajatan yang sangat meriah dan di sebut "Begawe Beleq"
yang tidak sedikit mengeluarkan biaya. Dalam acara Begawe Beleq baik
pihak laki-laki dan perempuan masing-masing akan mempersiapkan segala
sesuatu untuk prosesi acara nyongkolan tersebut. Maka disini letak
kemeriahan dari acara tersebut, para tamu undangan akan di undang dua
atau tiga hari sebelum hari H tersebut, untuk melakukan kegiatan
memasakan nasi dan lauk pauk serta membikin jajanan pesta. Untuk
menghibur para tamu yang bekerja biasanyanya pemilik hajatan (Epen Gawe-pen) akan menyewa kesenian-kesenian tradisional khas Sasak seperti Gendang Beleq, Drama, Joget (sinden-pen)
dan sebagainya. Pada perjalanan acara ini akan terdapat tradisi-tradisi
kecil lagi yang di jalankan seperti Bisoq Beras yang diiringi oleh alat
musik tradisional acara Bisoq Beras merupakan tradisi pavorit para
Terune Dedare karena disini mereka bisa bercengkerama dan saling rayu, dan acara bikin Ares.
Kembali ke Nyongkolan, setelah hari H tiba, pengantin laki-laki dan
perempuan akan diiring atau di giring atau diarak layaknya Raja dan
Permaisuri menuju kediaman keluarga pihak pengantin perempuan, pengiring
ini akan mengenakan pakaian adat sasak layaknya prajurit dan
dayang-dayang menghantar Raja dan Permaisuri sambil diiringi dengan
musik tetabuhan tradisional baik berupa Gendang Beleq, Gamelan Beleq, Kedodak, atau Tawak-Tawak malah sekarang ada namanya Kecimol dan Ale-Ale yang biasanya diiringi oleh penyanyi.
Sesampai dikediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin
akan melakukan sungkeman untuk meminta do'a restu kepada pihak keluarga
juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui untuk melepas
anak gadis mereka dan dibawa oleh suaminya.
Demikian sepenggal tradisi adat suku Sasak Lombok dalam melangsungkan
prosesi pernikahan, dan dari segi kultur atau budaya maka hal ini tidak
jauh-jauh dengan tradisi budaya Jawa dan Bali.
Selain itu, masih banyak yang masih belum aku masukin. Ya, sekedar memperkenalkan budaya ajalah. Budaya itu harus di lestarikan bukan ?
Nah, buat temen-temen yang mau liburan, Lombok bisa menjadi salah satu pilihannya. lanjut ON NEXT POST ;-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar